Puisi Pelipur Lara
November 10th, 2011
Cangkir
Sore ini teringat dengan puisi Rangga Ada Apa dengan Cinta atau lebih dikenal dengan AADC.
pecahkan saja gelasnya biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
ada malaikat menyulam
jaring laba laba belang di tembok keraton putih
Tapi yang menarik adalah “pecahkan gelas”. Sore ini aku shocked karena seseorang mendatangiku (kurang tau profesinya apa.. mungkin CS atau mungkin juga direktur.. aku gak tau). Beliau dengan wajah cemberut, memberiku gelas dan kurang lebih berkata:
Bos, jangan belagu ya. Karyawan aja gak pakai gelas.
Aku bekerja di salah satu vendor. Kebetulan hari ini aku di tempat client. untuk minum sehari-hari biasanya mereka biasanya pakai gelas aqua.
Hari ini, pasalnya aku ke pantry dan minum kopi memakai cangkir yang ada di pantry tersebut dan lupa nyuci gelas. Hiks, sedih plus marah.. Nasib.. ya nasib.. keluar juga makian dari mulutku sekali (tapi orangnya udah pergi). Ah, kupu-kupu juga ini orang… (begitu kira-kira.. kupu-kupu diganti dengan yang lebih sangar).
Tapi sepertinya salahku juga sih.. Mungkin dia terhina mencuci gelas karyawan vendor. Ya wes lah kalau gitu… sepertinya perlu bawa gelas sendiri.
Hubungannya dengan puisi??
oh iya juga ya… Aku jadi mengerti konteks pembuatan puisi itu. Mungkin waktu itu Rangga mengalami hal yang sama denganku.. Atau jangan2 di lokasi yang sama… Terus dia berkata dalam hati: “Kupecahkan ajalah gelas ini..” Nah, dalam kesedihan dan kemarahannya, mungkin Rangga menulis Puisi itu.. (mungkin loh ya)
*sekarang lagi kebelet ke toilet, tapi jadi takut.. nanti kalau ketemu dia, malah disuruh bawa toilet sendiri. Toilet ini hanya untuk karyawan ya…*
Pindah kerja!

Tau cerpen kompas kan? Yang selalu hadir setiap minggu di harian kompas. Ketertarikanku dengan cerpen kompas bermula dari membaca kumpulan cerpen-cerpen terbaik kompas. Kumpulan cerpen terbaik dalam setiap tahun ini dipilih dari seluruh cerpen yang terbit pada tahun itu.
Kongres PSSI kembali ricuh. Namun kericuhan kali ini disaksikan secara langsung oleh wakil dari FIFA. Kelompok 78 (ga ada hubungannya dengan densus 88) mendesak agar
Teng GO! Tidak jelas sumber kata ini.. Tapi yang pasti, hampir semua orang kantoran mengerti dengan istilah ini. Umumnya didefinisikan dengan: “begitu Teng, langsung Go” alias pulang tepat waktu.
Bukti 1 : Penemu Teori Habibie